Semua yang hidup berhutang Maut tanpa terkecuali. Hanya soal waktu yang bicara. Bukan lantaran tua, atau sakit atau peperangan. Sayidina Ali Karomallahu wajhah, berkata ; ‘’Berapa banyak orang tua renta dan sakit hidup terus-menerus, sementara yang kuat dan segar-bugar, tiba-tiba esoknya meninggal’’.
Sang Pedang Allah, Khalid bin Walid RodhiAllahu‘anhu, menangis terisak-isak menjelang ajalnya dengan berkata ; ‘’Saya telah mengalami ratusan kali peperangan besar, dan berharap mendapat anugerah kesyahidan di medan laga. Tetapi kini aku akan mati laksana seorang pengecut, dengan mati diatas tempat tidur’’.
Maut adalah perkara panggilan ajal. Seorang Alim pernah berkata ; ‘’Semua Manusia berlomba-lomba mencari nafkah untuk hidup dengan seribu jalan, tetapi pada hakekatnya seribu jalan itu menuju pintu kubur’’. Semua penantian, beserta segala kesibukan sehari-hari yang kita kerjakan ini – itu, pada hakekatnya adalah penantian menuju liang lahat. Maka tidakkah ini cukup menjadi pelajaran dari sebuah fakta, bahwa semua yang hidup pasti akan mati, sekarang atau esok. Jika sudah waktunya utusan Kematian akan datang dengan cepat, tepat, dan tak mungkin salah alamat, serta takkan kembali lagi kedunia ini walau hanya sedetik.
Kematian adalah nasihat bagi yang hidup, seolah-olah berkata; ‘’Tunggu aku ya…aku pasti datang menjemput kalian, maka persiapkanlah !’’. Tetapi berapa banyak orang yang lalai, padahal setiap kali mereka mengantar dan menguburkan Temannya, atau Tetangganya, atau Saudaranya. Yang mana sebelumnya si mati juga pernah hidup dan berbuat sama. Dan kini gilirannya. Lalu esok atau lusa entah siapa lagi.
‘’Orang yang cerdas adalah orang yang selalu ingat mati, lalu mempersiapkannya dengan amal sholeh, dan orang yang dungu adalah orang yang lalai dari mengingat kematian dengan menumpuk harta dan bakhil’’. (intisari hadits).

Posting Komentar